Kisah Wanita Muslimah dan Tukang Besi


Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.

“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa, aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah ?” tutur wanita itu.

Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik. Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.

“Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaimu ? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam” kata tukang besi itu.

Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati wanita itu.

“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah” ujar wanita itu sambil berlalu menuju rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi itu. Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.

Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah, suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk ketiga kalinya.

Ketika itulah Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya, “tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya”.

Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku ?”

“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah” jawab si tukang besi.

“Ya Allah jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan di akhirat” tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.

Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanitu itu lagi.

“Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu” ujar si tukang besi.

Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.

“Ya Allah Engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga”. Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.

Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil pelajaran berharga dari berbagai kisah wanita shalihah. Merekalah yang harusnya dijadikan suri tauladan dalam kehidupan keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedoisme dan materialisme.

Rachel Corrie, Relawan Amerika Tewas Dilindas Buldoser Israel Bela Keluarga di Palestina


Namanya Gantikan Kapal Mavi marmara

Kegigihan Rachel Corrie dalam memperjuangkan hak orang palestina yang ditindas dikenang oleh dunia, khususnya pejuang kemanusiaan. Saat ini nama relawan tersebut digunakan nama kapal para aktivis pro-Palestina untuk menggantikan kapal Mavi Marmara. Kapal itu diharapkan menembus blokade Israel dengan tanpa takut mengikuti kegigihan Rachel Corrie.

16 Maret 2003, Rachel Corrie, seorang perempuan muda warga negara Amerika Serikat, meninggal dunia dengan cara yang tragis: dilindas buldoser Israel buatan AS. Hari itu, Corrie ada di Kota Rafah, Palestina, bersama teman-temannya dari International Solidarity Movement, menyaksikan penyerbuan tentara Israel ke kota itu. Dengan dalih mencari “teroris”, tentara Israel menyerang Rafah dengan amunisi lengkap.


Peluru-peluru berdesing, tank bergerak mencari mangsa, dan buldoser merubuhkan rumah-rumah warga setempat. Corrie mendidih melihat semua itu. Tatkala melihat sebuah buldoser Israel hendak menghancurkan sepetak rumah warga Palestina, Corrie berlari menyongsongnya. Mengenakan jaket jingga terang, Corrie berdiri tegap di depan buldoser itu. Tapi buldoser tak berhenti. Teriakan para warga tak digubris. Naas, Corrie akhirnya terlindas buldoser itu. Ia menemu ajal di Rumah Sakit Najar.

Hari itu Corrie memang telah tiada, tapi kita bisa membaca jejak perjuangannya hingga kini dari catatan hariannya. Agustus 2008 lalu, buku yang berisi kumpulan catatan harian Rachel Corrie telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian).

Buku setebal 526 halaman yang diterbitkan Madia Publisher itu memuat pemikiran-pemikiran Corrie perihal perang, kemanusiaan, gaya hidup masyarakat modern, dan berbagai soal lainnya. Buku itu merupakan risalah yang mengecam perang sebagai sesuatu yang menodai kemanusiaan. Pengkotakan manusia karena perang, menurut Corrie, adalah sesuatu yang keji sebab manusia sebenarnya adalah saudara. “Mereka adalah kita. Kita adalah mereka,” begitu kata Corrie.

Lahir dari Olympia, AS, Corrie telah menjadi relawan kemanusiaan sejak usia belia—ia meninggal pada usia yang juga amat muda: 23 tahun. Keprihatinannya terhadap perang dan tragedi kemanusiaan mulai menemukan bentuknya tatkala ia tiba di Rusia sebagai relawan International Solidarity Movement. Saat itu, sebagaimana termaktub dalam catatan hariannya, Corrie mulai merasakan Amerika sebagai sesuatu yang asing. “Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggiran pikiranku….” tulis Corrie dalam catatan hariannya.



Buku Let Me Stand Alone merupakan contoh yang menarik tentang bagaimana para perempuan yang menyaksikan perang dan kekerasan dari dekat kemudian mengekspresikan gagasannya melalui medium tulisan. Sejarah mencatat, cukup banyak perempuan yang terlibat dalam perang kemudian menuliskan catatan harian atau sebuah risalah khusus mengenai perang.

Laksmi Pamuntjak pernah menulis kajian apik perihal dua perempuan yang sama-sama menulis buku soal perang: Simone Weil dan Rachel Bespaloff. Dalam buku bertajuk Perang, Langit, dan Dua Perempuan (Nalar, 2006), Laksmi mengisahkan bagaimana Weil dan Bespaloff bergulat dengan realitas Perang Dunia Kedua dan kemudian sama-sama mencoba melakukan tafsir atas kekerasan yang gila itu. Uniknya, keduanya sama-sama menafsirkan perang dan kemanusiaan melalui epos terkenal karya Homeros, Illiad.

Weil dan Bespaloff—keduanya sama-sama keturunan Yahudi yang tinggal di Prancis saat perang mulai merajalela—tampaknya mencoba menganalogikan Perang Dunia Kedua dengan Perang Troya yang dikisahkan dalam Illiad. Esai Weil soal Illiad terbit pertama kali tahun 1940 dengan judul L’Illiade, ou le poeme de la force yang berarti Illiad, atau Sebuah Puisi tentang Kekerasan. Sementara itu, esai Bespaloff—yang sering dianggap merupakan tanggapan atas esai Weil meski Bespaloff sendiri menampik tudingan itu—terbit tahun 1943 dengan judul De l’Illiade. Kedua esai itu kemudian disatukan dalam buku War & Illiad pada 2005.

Sama-sama perempuan yang mencoba menafsir Illiad, menurut Laksmi, Weil dan Bespaloff menghasilkan renungan yang berbeda soal perang. Weil lebih pasifis: ia menolak kekerasan dalam bentuk apapun sehingga baginya manusia yang terlibat dalam perang—baik mereka yang baik atau jahat—sebenarnya sama saja. Mereka yang terlibat dengan kekerasan—dengan niat baik atau jahat—bagi Weil, akan menuju akhir yang sama: kehancuran.



Sementara itu, Bespaloff melihat perang dengan sebuah sikap rendah hati yang tak hitam putih: perang tidak hanya berisi kekejian yang menggila, tapi juga hal-hal yang patut dikagumi, seperti semangat manusia berkorban demi sesamanya. Bagi Bespaloff, terlibat dalam suatu perang tak mengharuskan manusia berhenti memiliki harapan dan kebaikan.

Perempuan lain yang tersohor karena catatannya mengenai perang adalah Anne Frank. Tak tanggung-tanggung, ia adalah tokoh yang oleh Majalah Times dimasukkan ke dalam satu dari 100 Tokoh Abad 20 bersama nama-nama besar dunia seperti Lenin, Stalin, Mahatma Gandhi, dan Roosevelt. Anne Frank adalah gadis belia asal Belanda yang bersembunyi selama dua tahun saat tentara Nazi Jerman menyerang negerinya.

Buku hariannya merekam hari-hari Anne dalam masa sembunyi itu dan bagaimana perubahan dramatis terjadi di negerinya selama Perang Dunia Kedua. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Catatan Harian Anne Frank (Jalasutra, 2006) itu telah dibaca lebih dari 10 juta manusia dan menjadi salah satu autobiografi yang paling disukai sepanjang waktu.

Sama seperti catatan Corrie serta esai Bespaloff dan Weil, buku Anne Frank mengingatkan kita betapa kekerasan dan perang bukan hanya menghasilkan penderitaan yang memedihkan. Di tengah perang dan kekerasan, manusia juga bisa menuliskan catatan yang menginspirasikan banyak orang. Risalah-risalah itu adalah mutiara yang bersinar di antara tumpukan mayat, genangan darah, dan isak tangis manusia akibat perang.



Rachel Corrie. Sejak Olympia Movement for Justice and Peace (OMJP), Olympians for Peace in the Middle East (OPME), Students Educating Students about the Middle East (SESAME), Olympia Fellowship of Reconciliation (FOR) hingga International Solidarity Movement (ISM) disuplai energi kemanusiaan olehnya untuk meneriakkan kata “Merdeka!” Karena penjajahan yang diprakarsai negaranya (AS), Inggris dan Negara-negara Eropa masih berlangsung di hampir setiap sudut bumi ini.

Dengan pilihan merdeka, Rachel Corrie pergi ke Palestina. Rachel mempelajari isu tak masuk akal Palestina yang berhembus ke telinga dunia dengan kata “konflik” Palestina-Israel. Akhirnya dia dapati kenyataan bahwa Israel menjajah Palestina sejak lebih setengah abad lampau.

“Rachel, untuk pergi ke Palestina, kewajibankah? Tak seorangpun menyalahkanmu untuk mengurungkan niat itu,” ujar Mama Rachel. Rachel menjawab pasti, “Barang-barang sudah kukemas. Rasa takut itu manusiawi. Tapi kupikir, melakukannya tak mustahil. Harus kucoba, Mam.” Seatraktif apapun bujukan keluarganya, niat Rachel tak tergoyahkan. Tekad telah bulat, “Goodbye Olympia…”

Januari 2003. Rachel berangkat ke Israel untuk transit ke Tepi Barat. Setibanya di tanah para pengungsi itu, dia langsung bergabung bersama insan internasionalis (dari Inggris, Jerman, Itali dll) di International Solidarity Movement (ISM); wadah para pegiat kemanusiaan anti penjajahan. Pergerakan ini hanya memiliki dua syarat partisipasi: Pertama, pegiatnya yakin bahwa bangsa Palestina berhak merdeka berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB. Kedua, pegiatnya hanya menggunakan cara tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.

Ketika tiba di Rafah, Rachel saksikan tank, bulldozer, menara-menara sniper dan pos-pos penggeledahan Israel bertengger di antara puing-puing bekas pemukiman penduduk Gaza. Tembok baja raksasa dibangun di reruntuhan dekat perbatasan Mesir. Matanya menyapu sekeliling; tampak orang-orang Palestina bertahan, meski penindasan terus berlangsung. Wajah-wajah lusuh itu menjalani hidup serba kekurangan, menderita dan menunggu giliran direnggut maut. Itulah kisah jejakan pertama Rachel di bumi Palestina, seperti yang dikisahkan Craig Corrie, Mama Rachel Corrie.

Rachel abstraksikan bahaya di daratan gersang itu. Debam-debam ledakan nyaris tak berjedah diselingi suara peluru-peluru yang dimuntahkan. Sesekali jerit ketakutan penduduk samar terdengar. “Bisakah kau dengar itu…? Bisakah kau dengar itu…?” ujar Rachel terbata-bata saat pertama kali menelepon mamanya dari rumah seorang Palestina tempat dia tinggal.

Di Rafah, Rachel dan pegiat kemanusiaan lainnya menjadi benteng hidup, berdiri mengelilingi pekerja air kota Palestina yang menggali sumur. Dia hadang moncong laras panjang sniper-sniper militer Israel yang berada di menara benteng. Desir angin panas membahanakan deru misil-misil, tak hanya di Palestina, tapi ke seantero jagad.

Rachel dan rekan-rekan terus berdiri mengelilingi sumur-sumur yang sedang digali para pekerja hingga lewat tengah malam. Demi setetes air agar basahi tenggorokan pengungsi Palestina yang terkurung sejak lama di bui Gaza. Hanya itu satu-satunya cara, setelah kebun zaitun penduduk Palestina dilindas buldoser-buldoser tentara IDF (tentara pertahanan Israel), setelah tentara-tentara Israel menimbun sumur-sumur dengan puing-puing rumah penduduk.

Rachel mengasuh bocah yatim massal Palestina dalam naungan Children’s Parliament. Merekalah yang memantapkan kedewasaan Rachel. Melalui mereka, Rachel bisa berbahasa Arab. Melalui Rachel mereka berkenalan dengan bahasa Inggris.

Meski berada dalam situasi gawat di Rafah, Rachel dan kawan-kawan sempat berdemonstrasi menentang militer AS yang meluluhlantak Irak pada 15 Februari 2003. “Ini salah satu tragedi terbesar dalam sejarah,” tutur Rachel.

Kampung halaman: Olympia atau Gaza? Di mata Rachel sama pentingnya. Rachel menjadi tambang yang menyimpul komitmen persaudaraan Gaza-Olympia. Wanita, anak-anak bergabung dalam pekan raya persaudaraan prakarsa Rachel itu.



Rachel menghadang tentara IDF yang hobi meluluhlantak pemukiman penduduk Palestina terutama Gaza. Rachel sengaja menghuni rumah penduduk yang menjadi incaran buldoser-buldoser Zionis-Israel. Rachel sadar, hak hidup merdeka milik semua bangsa, termasuk bangsa Palestina. Ya, Rachel tahu, hukum internasional harusnya melindungi ribuan orang di Rafah, Jalur Gaza. Tak ada hak siapapun untuk memusnahkan bangsa lain, apapun dalihnya, termasuk dalih pendirian negara ilegal Israel dan perluasan wilayahnya oleh IDF dengan membasmi penduduk di daratan berbatasan Mesir itu.

16 Maret 2003. Bersama tujuh pejuang internasional kemanusiaan dari Amerika dan Inggris, Rachel rela menjadi benteng hidup agar sisa rumah-rumah warga Palestina selamat dari serudukan buldoser Caterpillar D-9R milik tentara Israel. Rachel dan aktivis ISM lainnya yakin, bangsa Palestina berhak hidup aman di rumah mereka, di sekolah bahkan di dalam bis. Rachel berprinsip; penjajahan Israel atas bangsa Palestina harus berakhir secepatnya. Pembantaian tak pernah dilakukan orang-orang beradab, apalagi dengan dalih perluasan wilayah. “Mungkin aksi damai efektif sebagai solusi hingga terhenti pembantaian orang-orang Palestina. Sebagaimana penduduk Amerika dan seluruh dunia bisa hidup merdeka, demikian Palestina,” tutur Rachel.

16 Maret 2003. Dua bulldoser dan tank-tank Israel melaju kencang di jalanan Hi Salam, Rafah, Jalur Gaza, perbatasan Mesir menuju rumah-rumah penduduk Palestina. Satu buldoser dikendarai operator, dipandu seorang tentara yang berhenti tepat di depan rumah Nasrallah, salah satu keluarga di Rafah. Sudah beberapa hari Rachel tinggal di dalamnya. Bukan sekedar menumpang tidur, tapi Rachel sengaja menghendaki tentara IDF mengurungkan niat membongkar rumah itu karena keberadaannya. Juga, Rachel menegaskan tekadnya untuk bersama warga Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Kesan seram ini dipotret Rachel melalui e-mail yang dikirim kepada Mamanya: Dua kamar depan rumah mereka tak dapat digunakan. Dinding-dindingnya hancur ditembus peluru Israel. Seluruh anggota keluarga; tiga anak dan dua pasang suami istri tidur di ruang tengah. Aku tidur di lantai bersama anak perempuannya, Iman dalam satu selimut.






Sekitar jam 5 sore, buldoser meraung-raung meminta tumbal. Saat melintas, rantai roda baja itu menyemburkan onggokan tanah kering hingga menimpuk aktivis-aktivis yang menjadi benteng hidup rumah warga Gaza itu. Seorang aktivis Amerika terlempar berguling-guling sebelum akhirnya tersangkut di kawat berduri dan seorang aktivis Inggris terjepit dinding. Buldoser D9R Israel siap melindas rumah itu, Rachel bergegas lari menghampiri. Dia tahu, keluarga Nasrallah berada di dalamnya. Dia hadang buldoser itu selayak Polantas menghentikan mobil di jalan raya. Aksi ini biasa dilakukan aktivis ISM sebelumnya.



Buldoser Israel tak berhenti. Aktivis-aktivis ISM lain menjerit histeris melambai-melambaikan tangan. Mereka ketakutan. Raungan buldoser menindih semua suara. Melihat D-9R semakin bergairah menyeruduk, Rachel berupaya memanjat gundukan tanah yang dikeruk pisau buldoser agar tak tertelan. Posisi Rachel di atas gundukan itu cukup tinggi, pasti tentara IDF yang mengoperasikan kendaraan baja itu melihatnya. Tapi serdadu itu tetap tancap gas. Rachel terbanting kemudian terseret pisau Bulldozer. D9R terus melaju. Rantai-rantai baja bergemeretak melindas Rachel, kemudian mundur. Tersisa tubuh hancur Sang gadis Olympia.

Teman-teman Rachel bergegas menghampiri. Rachel masih hidup kala itu. Dia sempat berkata, “Sepertinya punggungku remuk.’’ Tak lama ambulan Palestina datang. Saat itu dipastikan tiada harapan hidup bagi Rachel. Gadis berambut pirang itu dinyatakan meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit lokal.

Sayang, Rachel Corrie berada di pihak yang “salah.” Dia mati dilindas buldoser Israel. Karena alasan itulah pemerintahnya (Amerika Serikat) mendiamkan dan menghentikan kasusnya.

Rachel Corrie, abadilah namamu sebagai pejuang kemanusiaan. Engkaulah energi hidup yang menghidupkan.








Namanya Diabadikan Sebagai Nama Kapal Yang Akan Menembus Blokade Israel




Kegigihan Rachel Corrie dalam memperjuangkan hak orang palerstina yang ditindas dikenang oleh dunia, khususnya pejuang kemanusiaan. Saat ini nama relawan tersebut digunakan nama kapal para aktivis pro-Palestina untuk menggantikan kapal Mavi Marmara. Kapal itu diharapkan menembus blokade Israel dengan tanpa takut mengikuti kegigihan Rachel Corrie.

Kegagalan enam kapal misi kemanusiaan mancanegara mencapai Gaza akibat serangan brutal Israel, Senin (31/5/2010), tidak menyurutkan semangat para aktivis. Mereka berjanji untuk kembali mencoba menembus blokade Israel terhadap Gaza dengan memberangkatkan MV Rachel Corrie, kapal dagang yang dibeli para aktivis pro-Palestina.

Pihak penyelenggara misi, Selasa, mengatakan bahwa kapal yang menyandang nama aktivis perempuan Amerika yang tewas di Jalur Gaza pada 2003 itu sudah diberangkatkan dari Malta, Senin. Tekad para aktivis itu ditanggapi seorang pejabat Israel dengan mengatakan bahwa pihaknya akan menghambat misi kapal tersebut. Kondisi ini kembali memunculkan konfrontasi baru setelah insiden Senin berdarah. “Kami berinisiatif mendobrak blokade Israel terhadap satu setengah juta warga Gaza. Misi kami tidak berubah dan ini menjadi misi ‘flotilla’ terakhir,” kata Greta Berlin, aktivis Gerakan Pembebasan Gaza yang berbasis di Siprus ini

* Kumpulan catatan Rachel Corrie sejak Rusia hingga Palestina berikut reportasenya selama di Gaza pada akhir 2002 dan 2003 dengan judul LET ME STAND ALONE: Goresan Pena Gadis Amerika yang Dilindas Buldoser Israel Hidup-hidup di Palestina, telah diterbitkan oleh penerbit MADIA

sumber : korananakindonesia.wordpress.com

bestk43l

I was never interested in your personality, your hobby or your expertise. I'm just interested inside of you who have never seen anyone else.
I understand you in a different way..

waktu itu ibarat pedang, barang siapa mengabaikannya maka ia akan terpenggal

if you think happiness can you get with your passion then the darkness and anxiety will hit your conscience

do not blame me if I start to move away from you, all simply because you start to move away from God

Aku akan ada d sampingmu ketika kau dekat dengan Tuhan, sebaliknya aku akan menjauh darimu saat kau mulai menjauh dari Tuhan.

I have brought you to see the light, if you dont like it dont you throw away, keep it in your heart because you'll need it someday

my light began to fade, O please.. light again, I need your light to go through this life's struggle

Hatimu seperti selembar papan kayu, jika kau paku papan tsb akan meninggalkan lubang2 d sana sini, tak bisa kau pulihkan seperti semula, kau hanya bisa menambalnya...

human beings is creature which full of laments

If you want to make me happy, be a better person, more behave, more motivated to learn and be honest in life

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

if I had a mistake, do not judge me but tell me where my mistakes and do not judge me from the opinions of others, recognize me, then you will know

Tuhan aku LELAH........

Setiap laki-laki mencintai dua wanita; satu adalah ciptaan imajinasinya, sedang yang lain lagi, belum dilahirkan..

I know God even though I'm a lot to ask from you, instead you do not grant it but because you know what is best for me...! thank You Allah...

Mari kita awali hari ini dengan Senyuman :-)

bilal assad, surah annaba felt so deep in my heart...

Kadang hidup klo d pikirin berat juga yah.... tp klo d jalanin insyaAllah ringan bgd klo masih waras

Jangan jadikan agama sebagai simbol belaka, kita sering mempermasalahkan hal yang tidak penting, tp justru hal yang penting sering kita abaikan.....

Sebutkan hal apa yg kamu dapatkan tetapi menurut kamu itu adalah musibah, sesungguhnya cara pandang kamu yg salah, cobalah pandang dari sudut yg berbeda, insyaAllah kmu sungguh akan takjub...

Terimalah apa yang Allah berikan kepada kita karena itu adalah yang terbaik buat kita...

Orang yang SUKSES bukan berarti mereka yg berhasil dalam mencapai tujuannya, tetapi mereka yg SUKSES adalah yang mampu menerapkan idealisme dan kujujuran dalam hidupnya

Kembali



“Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.” (QS. Jum’ah:8).


Dan ketika kematian itu datang, maka berakhirlah segala kenikmatan yang telah dan tengah dirasakan manusia.
Begitu nafas itu berhenti, maka berhenti pula
berbagai kenikmatan yang ada.
Bila sudah saatnya, kita tidak akan mampu mengundurkannya.
Jika sudah begini : APA YANG BISA ENGKAU BANGGAKAN ????

Segera Bertobatlah di jalan Alloh SWT..

bestk43l

Keutamaan Dhuha yang Mengagumkan


Pengantar Shalat Dhuha
Shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari ketika matahari naik, kira-kira 7 hasta, hingga sebelum waktu dzuhur, sedikitnya dikerjakan sebanyak dua rakaat hingga dua belas rakaat. Shalat ini lebih baik jika dikerjakan waktu panas/udara sedang terik.

Dari Zaid bin Arqam, bahwasanya: Nabi Muhammad s.a.w keluar menuju tempat Ahli Qubaa. Waktu itu mereka sedang mengerjakan shalat Dhuha. Sabda beliau, “inilah shalat orang-orang yang kembali kepada Allah, yakni pada saat anak-anak unta bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.” (HR. Ahmad - Muslim)

Shalat Dhuha sangat banyak sekali manfaatnya, juga sangat besar fadhilahnya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hal ini lebih baik jika kita melakukannya secara terus menerus/langgeng. (Shalat Dhuha – Drs. Mohammad Anwar).

Dasar Hukum Shalat Dhuha
”Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah Rasulullah...” (QS. Ali Imron: 31)

”Siapa orang melaksanakan sholat subuh secara berjamaah kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah SWT hingga terbit matahari kemudia dia melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna dan sempurna.”

Di hadits lain Rasulullah bersabda ketika menjelaskan bahwa sholat Dhuha menjadi penggugur dosa-dosa setiap hambanya.

Riwayat imam Tirmidzi, beliau bersabda ”siapa orang yang mendawamkan, membiasakan melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat saja niscaya dosanya diampuni oleh Allah sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan”

Rasulullah pernah bersabda pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Nanti pada hari kiamat akan ada sebuah pintu yang disebut dengan pintu Dhuha. Pada saat itu malaikat akan berseru mana orang-orang yang semenjak di dunia mendawamkan membiasakan sholat Dhuha, inilah pintu kalian, silahkan masuk kedalam surga.”

Pembahasan Materi
Shalat Dhuha merupakan shalat sunnah muakkad. Yang artinya sunnah yang mendekati wajib. Sunnah yang teramat penting. Kalau sunnah muakkad ditinggalkan akan berpengaruh kepada kesehatan, rezeki, nasib dan kualitas hidup kita. Seperti halnya sunnah rawatib yang menjadi pasangan dari shalat wajib, itu juga sunnah muakkad. Bila tidak dilaksanakan maka ibarat burung yang punya sayap dan tidak mau terbang. Amal kita tidak akan naik ke atas langit bila sunnah muakkad (rawatib) ditinggalkan. Begitu juga shalah Dhuha. Darimana dasarnya, ada satu riwayat dari Abu Hurairah yang mewasiatkan tiga hal yang tidak akan pernah aku tinggalkan, salah satunya adalah sholat Dhuha.

Lalu kenapa kita tidak terbiasa melaksanakan shalat Dhuha? Paling tidak ada tiga alasan mengapa kita menjadi tidak terbiasa melaksanakan shalat Dhuha ini, antara lain:
Tidak tahu, kalau kita tahu niscaya kita akan terdorong untuk terbiasa melakukan sholat Dhuha.
Tidak terbiasa berada di tengah-tengah orang yang rajin dan terbiasa melakukan sholat Dhuha.
Sistem pendidikan kita secara tidak sadar membuat kita tidak terbiasa melakukan sholat Dhuha, tidak terbiasa mencintai Rasulullah. Dari sebab tidak dikenalnya sholat Dhuha sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Shalat Dhuha juga dihitung sebagai hutang kepada Allah. Jadi begini, kita hidup dengan menggunakan semua fasilitas yang Allah punya. Kita bernafas dengan udara yang Allah punya, kita makan dan minum dengan sistem pencernaan yang Allah juga punya, kita melihat, bicara, mendengar berpikir menggunakan apa-apa yang Allah punya, sehingga bayar juga menjadi sesuatu hal yang wajar. Kita saja punya rumah kita masih bayar ke negara (pajak). Apalagi dengan Allah yang berikan kepada kita. Cuma Allah bilang siapa orang yang oleh Allah kenakan bayaran dan dia harus bayar dia nggak akan mampu membayar, karena kasih sayang Allah, Allah pun bilang pada kita cukuplah dengan sholat Dhuha dua rakaat maka hutang kalian kepadaku itu lunas.

Malah terdapat konsekuensi shalat Dhuha dengan rizki yang didapat oleh manusia. Ada sebuah kisah nyata yakni pengusaha yang bangkrut dalam usahanya, setelah diteliti ternyata dia mengakui kalau dia sudah lalai dalam melaksanakan sholat Dhuha. Berangkat dari sholat Dhuha itu menutup hutang kita kepada Allah AzzaWajalla dalam satu hari, wajar bila kemudian Allah menyatakan kalian tidak punya rizki. Kenapa? Karena satu hari penuh rizki kita emang diambil oleh Allah, kenapa? lantaran kita tidak sholat Dhuha. Bayangin kita khan kudu bayar sehari penuh tapi karena bila dituntut bayaran tidak ada yang sanggup membayar, maka hasil usaha kita, hasil kerja kita akan diambil oleh Allah SWT kalau kita tidak sholat Dhuha. Ada yang diambil harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Tergantung Allah kapan mau mengambilnya. Maka penting sekali menutup hari kita dan memulai hari kita dengan berangkat sholat sunnah.

Baik Sekali Ya Allah?
Jelas, baik sekali malah. Bagaimana nggak baik, hutang kita sehari penuh dianggap lunas hanya dengan dua rakaat saja. Dan kebaikan lainnya adalah memberi nilai lebih dari sekedar kita membayar hutang kepada Allah.

Jadi begitu masuk ke gerbang shalat Dhuha jangan cuma dua rakaat, kalau bisa sampai 12 rakaat. Setiap dua rakaat yang kita lakukan itu akan menutup hari yang sudah kita lewati tanpa shalat Dhuha. Hitung saja sudah berapa tahun kita meninggalkan sholat Dhuha.

Apalagi Yang Bisa Menghapus Hutang Dhuha?
Diantaranya kita menjadi penyeru sholat Dhuha. Ketemu siapa saja kita usahakan kita beritahu apa saja fadhilah sholat Dhuha. insyaAllah ALLAH akan menggerakan kita menjadi orang-orang yang menggerakkan orang lain untuk sholat Dhuha. Kalau kita benar-benar niat untuk menggerakkan orang lain untuk sholat Dhuha.

Penutup
Ya akhi wa ukhti fillah, tidak ada manusia yang sempurna dan lepas dari kesalahan, tetapi itu semua bukan sebuah alasan untuk kita tidak menjadi baik. Setelah mengetahui fadhilah dari shalat Dhuha ini marilah kita meng-azzam-kan kuat-kuat dalam hati kita bahwa tidak ada satu pagi pun yang akan kita lewati tanpa menegakka shalat Dhuha, insyaAllah.

Sumber : CD Audio Majelis Dhuha Nasional asuhan dari Ustadz Yusuf Mansyur

Orang beriman selalu Menepati Ucapannya


Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, ketika Umar sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiga pemuda bangsawan yang tampan memasuki majelisnya. Dua orang di antaranya berkata, “Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Kitabullah.” Khalifah ‘Umar menatap orang yang ketiga dan memintanya untuk berbicara.
“Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang selalu Hadir, mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenar-benarnya, ” kata si tertuduh itu.

“Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun. Aku tiba di Madinah tadi pagi untuk berziarah ke makam Rasullulah saw. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku untuk menyucikan diri dan berwudhu. Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon kurma yang bergelantungan melewati tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kuda menjauhi ranting-ranting tersebut. Pada saat itu juga, seorang laki-laki tua yang sedang marah mendekatiku dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke kepala kudaku, dan kudaku langsung mati. Karena itu aku sangat menyayangi kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan melemparkannya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal. Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya, tetapi kemana? Jika aku tidak mendapatkan hukuman di sini, di dunia ini, aku pasti akan mendapatkan hukuman yang abadi di akhirat nanti. Aku tidak bermaksud membunuh orang itu, tetapi
kenyataannya dia mati di tanganku. Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku.”
Khalifah berkata, “Engkau telah melakukan pembunuhan. Menurut hukum Islam, engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau lakukan.”

Walaupun pernyataan itu berati satu pengumuman kematian, pemuda itu tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, “Kalau begitu, laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan harta kekayaan anak yatim yang harus aku serahkan kepadanya bila ia telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman. Tak ada seorangpun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus menggalinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain. Kalau tidak, anak yatim itu akan kehilangan haknya. Beri aku tiga hari untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini.”

Umar menjawab, “Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada orang lain yang bersedia menggantikanmu dan menjadi jaminan untuk nyawamu.”
“Wahai Amirul Mukminin,” kata pemuda tersebut, “Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. hatiku sarat dengan rasa takut kepada Allah; yakinlah bahwa aku akan kembali.”

Khalifah menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu memandang kepada para pengkut Rasullulah saw, yang mulia yang berkerumun di sekeliling khalifah. Dengan memilih secara acak, ia menunjuk Abu Dzar Al-Ghifari dan berkata, “Orang ini akan menjadi jaminan bagiku.” Abu Dzar adalah salah satu saeorang sahabat Rasulullah saw, yang paling dicintai dan disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, Abu Dzar setuju untuk menggantikan pemuda itu.

Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga, kedua penggugat itu kembali ke sidang khalifah. Abu Dzar ada di sana, tetapi tertuduh itu tidak ada. Kedua penuduh itu berkata: “Wahai Abu Dzar, anda bersedia menjadi jaminan bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali, kami tidak akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami.”

Khalifah berkata: “Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus melaksanakan hukuman itu kepada Abu Dzar.” Mendengar kata-kata tersebut, setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena Abu Dzar, orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji, merupakan cahaya dan inpirasi bagi semua penduduk Madinah.

Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul. Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan berkeringat. “Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir,” dia berkata terengah-engah, “Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir. Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Padang pasir sangatlah panas dan perjalanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap, laksanakanlah hukumanku.”

Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, “Orang yang beriman selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat orang-orang berkata, “Orang-orang Islam tidak kagi menepati ucapannya sendiri?”

Kerumunan massa itu kemudian berpaking kepada Abu Dzr dan bertanya apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. Abu Dzar menjawa, “Tidak, sama sekali. Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan haru dan kasih sayang yang tersisa dalam Islam?”

Hati dan perasaan kedua penuduh itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu menarik tuduhannya, seraya berkata, “Apakah kami harus menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di dalam Islam?”

Sumber : http://jaen2006.wordpress.com

Teka-teki Imam Al-ghazali


Suatu hari Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya dan kemudian beliau memberikan pertanyaan teka-teki…
Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu adalah janji Allah SWT bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (Surah Ali-Imran : 185).

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf : 179).
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72).
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[*] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
[*]: Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allad SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.

Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.

Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”
Murid-murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Kupinang Engkau dengan Al Quran


Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh dan suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

by : Gradasi

Cahayaku mulai Meredup


Tuhan cahayaku mulai meredup,
O tolonglah terang kembali,
aku butuh cahayaMu
untuk melalui perjuangan hidup ini..

Tuhan tampunglah aku dalam cahayamu
Jangan biarkan mulutku berucap
melainkan....Allah....Allah...Allah....

Biar Kau cabik-cabik diri ini...
Tentu Engkau lebih tahu hal ini dan itu....
Hanya saja jangan kau tutup mulutku untuk menyebut....Allah...Allah...Allah

Ya Tuhanku maulaku...
Kadang Kau hias hidupku dengan tawa
Kadang dengan airmata...
Kadang dengan tanya...
Tapi buatlah hatiku selalu menyangka
Inilah caraMu mencintaiku.....

Ya Tuhanku harapanku....
Jangan Kau uji aku dengan pertolongan makhlukMu.......
Cukupkan aku dengan kalimatMu

Biarlah penduduk langit dan bumi menggema...
Bagiku hanya dengan perhatianMu walau sekejap mata...
Berduaan denganMu walau sesaat dan aku merasakannya....
Cukup itu ya Rab....cukup......

Terimakasih yaa Rab

sumber : ardifa.com (writen by AG)

status FB (my wife) : Haah....Jenuh rasany krjaan g ad hbsny yg d krjain jg itu2 aj...


Wahai istriku bersabarlah.......

Suatu hari Rasulullah SAW melihat Fatimah sedang menggiling gandum sambil menangis. Ternyata Fatimah merasa semua pekerjaan rumah tangga membuatnya bosan (baca : bĂȘte).

Terus Rasulullah berkata jika Allah menghendaki, niscaya penggilingan itu berputar sendiri untuk manusia, tapi ternyata Allah menghendaki beberapa kebaikan ditulis dan beberapa kesalahan dihapus dari Fatimah dan diangkat derajatnya.

Ya Fatimah, jika perempuan menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Jika perempuan berkeringat ketika ia menggiling gandum, maka Allah menjadikan antara dirinya dan neraka 7 buah parit.

Jika ia meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya dan mencuci pakaian mereka, Allah akan mencatat pahala orang yang memberi makan 1.000 orang lapar dan memberi pakaian 1.000 orang.

Jika perempuan melayani suaminya sehari semalam dengan baik hati, iklas, dengan niat yang benar, Allah akan mengampuni semua dosanya dan akan dicatat dari setiap bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya 1.000 kebaikan dan dikaruniakan untuknya 1.000 pahala haji dan umrah..